Sang Tiran dan Putrinya
Oh sekarang, menahan penderitaan ini. Layaknya hari di mana aku mengabaikan segala hal, rasa sakit ini kian tumbuh setiap hari. Di hadapanku tanpa henti, Deja Vu. Dreamcatcher – Deja Vu
Richard Savasta telah meninggalkan rasa kepeduliannya di hari Istana Bellesea dilahap oleh lautan api. Hari itu ia bersumpah bahwa ia akan hidup untuk balas dendam dan membawa kehancuran untuk mereka yang telah menyakitinya.
Namun, takdir memiliki rencana lain bagi Richard.
Tanpa ia sadari, dirinya membuat sebuah kecerobohan. Sembilan bulan kemudian, kecerobohan itu melahirkan sosok bayi mungil di Istana Oakenfield—salah satu istana para selir. Sayangnya, Ibu dari sosok bayi itu telah tiada akibat melahirkan si mungil.
Pertama kali Richard mengetahui bahwa dirinya telah menjadi seorang ayah, ia berpikir untuk menghapus anak tersebut dari dunia. Namun, ketika ia mengunjungi si bayi mungil tersebut, ia mengurungkan niatnya. Entah mengapa, tangannya tak bisa ia angkat untuk mengayunkan pedang kepada bayi tersebut.
Richard tak ingin terlibat oleh anak tersebut, namun ia juga tidak sanggup untuk membunuh bayi tersebut. Ia tak ingin berhubungan dengan bayi mungil itu karena dirinya sadar bahwa ia tak bisa memberikan kasih sayang seorang ayah untuk anak tersebut. Dirinya hidup untuk balas dendam dan kehancuran—dan akan berlanjut hingga akhir hayatnya.
Maka, pilihan yang Richard buat untuk si bayi mungil adalah meninggalkan anaknya di tangan para pelayan istana. Ia memilih sedikit pelayan untuk mengurus anak tersebut di salah satu istana yang cukup terisolasi. Setelahnya, ia lepas tangan akan nasib anak kecil tersebut.
. . .
Agatha Savasta.
Bayi mungil itu Richard beri nama setelah enam bulan sejak kelahirannya. Entah apa yang merasukinya untuk memberi makhluk kecil itu nama, terlebih arti dari nama itu.
Baik.
Bayi mungil yang telah ditelantarkan kedua orang tuanya sejak lahir dan membawa kutukan para biadab dinamakan dengan arti “baik”.
Benar-benar ironis.
Mungkin, jauh di lubuk hati terdalam Richard, ia berharap bayi mungil itu mendapatkan suatu kebaikan dalam hidupnya—atau mungkin bayi itu akan tumbuh menjadi sosok yang baik, terlepas dari kutukan keluarganya.
Tapi, tentu saja, hal itu mustahil. Karena, syarat pertama sebagai keturunan asli Savasta adalah penderitaan—dan, bayi mungil itu sudah merasakannya sejak ia dilahirkan.
. . .
Tiga tahun.
Tiga tahun Richard mengabaikan bayi mungil itu, entah mengapa makhluk tersebut masih hidup. Sosoknya terlihat kurang gizi sebab ia membatasi kebutuhan pangan yang masuk ke dalam istana itu. Walaupun begitu, sosok bayi itu tumbuh menjadi gadis yang aktif dan serba ingin tahu.
Richard mengembuskan napas kecil.
Gadis malang, pikirnya, lebih baik kau tidak pernah lahir. Ibumu kejam sekali memaksamu untuk lahir.
Ia terdiam.
Ayahmu juga tidak becus merawatmu.
Richard mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba untuk tidak memikirkan eksistensi yang memiliki hubungan darah dengannya itu.
. . .
Richard, sejujurnya, bingung.
Bayi mungil yang ia namakan Agatha itu entah bagaimana masih hidup hingga berumur 12 tahun. Lebih anehnya lagi, anak kecil ini tidak memiliki kebencian sedikit pun kepada Richard, melainkan selalu semangat untuk membantunya mengurus permasalahan kekaisaran.
Tapi, Richard juga tidak merasakan rasa sayang dari sosok anak kecil itu.
Agatha hanya peduli pada Kekaisaran Tarramonia saja—lebih tepatnya pada eksistensi Keluarga Savasta. Entah mengapa anak ini merasa bangga menjadi salah satu keturunan para biadab.
Richard tidak tahu harus bagaimana menanggapi fakta ini. Tidak seperti anggota keluarga Savasta yang telah ia temui, kekaguman Agatah bisa dibilang... polos. Tidak ada rasa ingin menyingkirkan kaisar saat ini, ataupun menyiksa penduduk kekaisaran. Anak kecil ini hanya ingin melihat nama Savasta semakin dikenal dan dipuja.
Akan tetapi, seorang Savasta tetaplah Savasta, bahkan niat baik sang putri tak akan bisa mengoreksi kutukan para biadab.
Memang niat sang putri baik, namun caranya salah. Karena, entah bagaimana, Agatha menyebabkan lebih banyak kesengsaraan di tanah Tarramonia, sesuai dengan visi sang dewi yang telah mengutuk keturunan kekaisaran.
. . .
Richard sudah melihat pemberontakan akan terjadi dari jauh hari. Bahkan, bisa dibilang, Richard telah merencanakan pemberontakan dari rakyat Tarramonia sudah dari sebelum ia melakukan balas dendamnya. Ia sudah siap menyerahkan diri untuk dihukum oleh rakyatnya sendiri. Ia sudah siap mengakhiri semua hal yang berkaitan dengan Savasta dan membiarkan kekaisaran ini membuka lembaran baru dengan kebijakan yang lebih baik.
Namun, satu hal yang tak Richard rencanakan adalah eksistensi Agatha.
Melihat sang putri diseret oleh para pemberontak dan dipasung tepat di depan matanya membuat jantung Richard yang ia kira sudah mati membara panas. Dirinya memang telah menelantarkan anaknya begitu saja, tetapi putrinya tidak pantas menerima akhir seperti ini.
Richard merasa bersalah.
Bersalah karena tidak langsung membunuh bayi mungil itu saat itu juga; bersalah karena telah menelantarkan putrinya; bersalah karena telah menjadi orang tua yang tidak becus; bersalah karena Richard lah yang menyebabkan takdir tragis anaknya sendiri.
. . .
Apa kau ingin mengulang waktu kembali?
Richard tak bisa melihat apa-apa. Ia merasa tubuhnya mengambang entah di mana. Namun, suara lembut nan anggun itu bergema di kepalanya, suara yang sangat familiar.
“Aleysha.”
Dewi Kehidupan, Aleysha.
Dewi yang telah mengutuk keluarga sialan itu.
Benar, ini aku. Apa kau ingin mengulang waktu kembali?
Richard terdiam.
“Apa maksudmu?”
Mengulang kembali waktu, mengirimmu ke masa lalu untuk mengubah masa depanmu.
Richard tidak berkata apa-apa, sehingga sang dewi melanjutkan.
Sebenarnya, Agatha ditakdirkan sebagai keturunan terakhir dari keluargamu. Takdir di mana keluarga kekaisaran runtuh merupakan takdir absolut yang tak bisa diganggu gugat.
“Lalu mengapa kau menawarkanku untuk kembali ke masa lalu?”
Karena aku pun tak ingin melihat keturunan dari sosok yang aku anugerahi hancur begitu saja. Terlebih putrimu terlahir dengan kekuatan yang dahsyat. Sayang sekali jika sosok sepertinya meninggal hanya karena Takdir telah menetapkan dirinya sebagai keturunan Savasta terakhir.
“Kau bilang takdir absolut tidak bisa diganggu gugat—”
Bukannya tidak bisa, tapi prosesnya panjang dan menyusahkan. Kau harus mengubah linimasa sekreatif mungkin hingga logikanya dapat sejalan dengan Takdir. Bagaimana, kau ingin mengulang waktumu kembali?
. . .
Dan di situlah Richard, berdiri menatap bayi mungil yang entah bagaimana sudah terlahir.
“Agatha,” ia berkata, “namanya mulai sekarang adalah Agatha Savasta.”
End.