Sang Tiran dari Tarramonia
Terlahir dengan jiwa sesuci apapun, mereka tetaplah keturunan para biadab.
Kelahiran anak itu berjalan dengan lancar, untungnya. Putra bungsu Kaisar pada masa itu, terlahir dari selir kedua yang terkenal dengan kecantikannya. Surai hitam pekat dan mata sehijau zamrud, karakteristik khas keturunan keluarga terkuat di Kekaisaran Tarramonia.
Diberikan nama Richard oleh Sang Ibunda, sejujurnya tidak ada harapan agar sang anak menjadi penerus takhta selanjutnya. Sang Ibunda hanya tak sengaja melihat nama tersebut dan menyukai pelafalannya.
Tumbuh terkunci di Istana Bellesea, kehidupan Richard kecil tidak sesuram yang dibayangkan. Ya, kebebasannya dibatasi, namun itu tidak masalah bagi sang bungsu. Asalkan ia bisa bersama Sang Ibunda, bahagia dan tertawa bersamanya, Richard tidak masalah.
Sayang sekali bagi Richard kecil, keturunan para biadab tidak akan bisa bahagia seperti yang diimpikan.
Tragedi adalah makanan sehari-hari para biadab. Semua keturunannya akan merasakan kesengsaraan tiada batas.
Semua kisah menyedihkan diawali dengan kematian seseorang yang dicintai, begitu juga dengan kisah Richard.
Istana Bellesea yang sudah terisolasi dari dunia luar menjadi lautan api dalam sekejap, tak meninggalkan satu pun penyintas kecuali sang pangeran kecil. Para penyelidik berkata bahwa penyebab kebakaran adalah api unggun yang sudah tua. Namun, dari sudut mana pun juga, kebakaran di kediaman selir kedua sangatlah aneh. Tidak ada satu pun barang yang malfungsi di istana tersebut, Richard yakin akan hal itu. Maka tragedi ini merupakan ulah seseorang.
“Oh, masih hidup ternyata?”
Wanita itu sangatlah tamak. Menciptakan celaka di balik layar hanya karena sebuah ancaman kecil—yang nyatanya tidak akan pernah menjadi ancaman jika tidak diprovokasi.
Menghapus jejaknya demi anaknya menjadi putra mahkota? Lelucon yang sangat lucu.
Richard dan Sang Ibunda hanya berdiam diri di Istana Bellesea. Mereka bahkan diawasi sangat ketat dan tidak diperbolehkan untuk keluar sembarangan. Menjadi putra mahkota hanyalah angan-angan. Jika pun Richard menjadi salah satu kandidat, ia akan dengan senang hati melepaskan kesempatan itu dan pergi berpetualang mengelilingi benua tempat tinggalnya.
Wanita tamak.
Pangeran kecil itu tak pernah memiliki ambisi untuk meraih takhta kekaisaran. Namun, tragedi itu merubah seluruh keyakinannya.
Richard akan menjadi kaisar selanjutnya, atas dasar balas dendam.
Mereka yang paling biadab akan berada di posisi paling atas rantai, maka dari itu tidak ada ruang untuk cinta kembali.
Tahun ke-18 semenjak kelahirannya, kini Richard berada di puncak kekaisaran. Sudah banyak darah yang tumpah akibat kedua tangannya. Mereka yang menyebabkan kematian Sang Ibunda, mereka yang menindas dirinya, mereka yang berkhianat, mereka yang menentangnya—semua ia hukum.
“Kematian terlalu mudah sebagai hukuman bagimu, ya 'kan? Kamu tidak berhak mendapat tidur nyenyak. Hanya kesengsaraan untukmu.”
Siksa.
siksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksasiksa
Siksa semua orang yang telah menyakiti dirinya.
Pangeran kecil yang ingin hidup tenang bersama Sang Ibunda sudah tidak ada lagi.
Di atas takhta ini, duduk seorang tiran yang lebih sadis dari Kaisar Pertama.
Ialah keturunan para biadab, Richard Savasta.