Sang Nona Jahat yang Baik Hati

Agatha Savasta


Kelahiran yang tidak diinginkan—adalah aku, yang ditakdirkan sebagai keturunan terakhir pada biadab.

Alasan mengapa sang gadis dilahirkan bukanlah sesuatu yang penuh dengan kasih sayang. Sang Kaisar tidak menginginkan satu keturunan pun. Para selir yang dikumpulkan bagaikan cenderamata hasil peperangan hanyalah sebagai pajangan. Namun, salah satu selir, ialah Sang Ibunda dari gadis itu, ingin menentang Sang Kaisar dengan satu hal yang pemimpin kekaisaran itu tidak inginkan—sebuah keturunan.

Maka dari itu sang gadis terlahir.

Sayang sekali, demi pembalasan dendam, Sang Ibunda harus pergi dari dunia selamanya.

Tinggallah bayi perempuan mungil, terdiam di dalam keranjang bayi di Istana Oakenfield.

Sang Kaisar tidak senang dengan kehadirannya. Pedang dihunus pada tubuh bayi mungil tersebut, yang tidak bergeming dengan ancaman itu. Namun, Sang Kaisar mengubah pikirannya dan memilih untuk meninggalkan bayi perempuan itu di Istana Oakenfield dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Baru saja lahir dan sang gadis sudah ditinggal mati oleh Sang Ibunda serta ditelantarkan oleh Sang Ayah.

Hal yang normal terjadi bagi keturunan Para Biadab.

Entah apa yang diharapkan Ayah ketika beliau memberiku nama, namun aku masih bernapas demi kelangsungan hidup kekaisaran, tentu saja.

Agatha Savasta.

Enam bulan setelah kelahirannya, Sang Kaisar akhirnya memberikan bayi mungil itu sebuah nama. Cukup ironis karena “Agatha” memiliki arti “kebaikan”, namun bayi mungil itu terlahir di keluarga yang terkenal dengan tirani dan kekejiannya.

Berharap sang bayi menjadi sosok gadis yang baik hati?

Mungkin saja harapan Sang Kaisar dapat terwujud. Namun, sekali lagi, dirinya merupakan keturunan Para Biadab yang terkenal keji, kebaikan hati sang gadis memiliki perkembangan yang tidak disangka.

Agatha tumbuh menjadi sosok gadis yang menawan nan pintar. Dirinya kerap terlibat dalam politik kekaisaran, membantu Sang Ayah demi kelangsungan kekaisaran yang ia cintai. Sang gadis mencintai tanah kelahirannya dari lubuk hati terdalam. Namun, cara ia menyampaikan cinta itu seusai dengan perilaku para biadab.

Kebahagiaan di atas kesengsaraan—begitulah penggambaran kebaikan hati sang gadis.

Semua di atas nama kejayaan kekaisaran.

Aku hanya ingin kelangsungan hidup kekaisaran, namun sepertinya caraku salah. Sayangnya, tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa aku salah. Perilaku seperti ini sudah normal bagi aku yang keturunan para biadab, The Savasta.

Nona Saintess. Putri Jahat.

Dua nama itu merupakan gelar sang gadis yang merupakan penerus takhta Kekaisaran Tarramonia. Dirinya dikenal sebagai Putri yang Jahat karena perilakunya yang sadis dan keji. Namun, di sisi lain, dirinya dianugerahi kekuatan oleh Dewi Aleysha—seperti para biadab lain pada umumnya—namun, anugerah milik sang gadis sangat besar hingga ia dapat diakui sebagai seorang saintess.

Aneh tapi nyata.

Namun, sayang sekali umur Agatha tidak berlangsung lama. Pemberontakan terjadi di berbagai penjuru kekaisaran demi menggulingkan keluarga kekaisaran yang tengah memimpin sekarang—keluarga Savasta. Sang putri mahkota sudah berupaya untuk menghabiskan pemberontakan itu, namun gagal. Dirinya dipasung di depan khalayak ramai, di depan Ayahnya sendiri.

Hanya ada satu penyesalan dalam hidupnya—ia tidak bisa menjadi kekaisaran dan keluarganya seperti yang ia harapkan.

Akan tetapi, hidup itu lucu, terkadang.

Sang Iblis membisikkan sebuah penawaran yang menarik, yaitu untuk kembali ke masa sebelumnya untuk mengulang sejarah agar dirinya dapat mencegah hal yang tak diinginkan.

Dan, siapa Agatha untuk menolak tawaran menggiurkan itu?

Demi keluarga dan kekaisarannya, Agatha sanggup menjalin perjanjian dengan Sang Iblis.