Putra Mahkota yang Seharusnya Tidak Nyata

George Savasta


Para biadab hanya memiliki satu akhir: kesengsaraan; layaknya sebuah tradisi sejak zaman nenek moyang.

Sejak lahir, aku sudah didambakan menjadi Putra Mahkota untuk Kekaisaran Tarramonia. Ibunda mengajarkanku etika dan pengetahuan seputar kekaisaran. Ayahanda mendidikku untuk menjadi pemimpin yang mengayomi rakyatnya, namun dapat bertindak tegas jika dihadapi oleh pilihan sulit. Serta adik perempuanku yang entah bagaimana memiliki pengetahuan luas mengenai serba-serbi kekaisaran—mulai dari harga standar pasar hingga skandal Perdana Menteri.

Aku telah dilatih untuk menjadi kaisar selanjutnya sejak kecil.

Namun, pada hari yang tak terlupakan itu, ketika aku sedang mengunjungi Katedral Utama, Dewi Kebajikan menghampiriku dan memberikan sebuah penawaran:

“Apakah kamu ingin melihat kebenaran tentang dirimu?”

Penawaran yang aneh bagi seorang Dewi Kebajikan, jadi aku menolaknya. Akan tetapi, setelah hari-hari berlalu, ucapan Sang Dewi Kebajikan tetap terngiang di dalam kepalaku. Akhirnya, aku kembali ke dalam Katedral Utama.

“Apakah kamu sudah ingin melihat kebenarannya?”

Sang Dewi Kebajikan kembali memberikanku penawaran.

Namun, terkadang muncul para biadab yang diluar nalar. Dua insan yang dikasihi Dewi Kebajikan, mereka menciptakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Memori.

Dewi Kebajikan memberikanku memori.

Aku melihat Ayahanda dan Adik Perempuanku di memori pertama. Namun, tidak ada Ibunda, para selir, maupun orang-orang yang sudah kukenal sejak lahir. Hanya ada Ayahanda dan Adik Perempuanku yang terlihat sedang berperang demi kelangsungan keluarga kekaisaran—namun keduanya gagal.

Diriku yang kaget melihat kematian kedua anggota keluarga yang sangat berharga bagiku, bertanya pada Dewi Kebajikan, “Memori apa ini?”

Sang Dewi tersenyum sedih, “Takdir yang seharusnya terjadi.”

Memori kedua yang diberikan tidak jauh berbeda dengan memori pertama, hanya saja di memori kedua, lebih banyak orang yang aku kenal muncul, juga hubungan Sang Ayahanda serta Adik Perempuanku tidak secanggung memori pertama. Namun, lagi-lagi keduanya dibantai dengan sadis.

“Kenapa kau menunjukkan ini padaku?”

“Tetaplah lihat dan kau akan tahu.”

Aku melanjutkan melihat isi memori ketiga. Memori kali ini cukup berbeda karena Ayahanda terlihat seperti sosok Ayah yang penyayang... juga beliau memiliki empat anak, termasuk aku salah satunya, George Savasta sebagai anak ketiga yang lahir dari salah satu selir Sang Kaisar. Aku melihat perkembangan kekaisaran menjadi lebih subur dan makmur, masyarakatnya juga sejahtera—berbanding balik dengan dua memori sebelumnya. Namun, naas, memori itu berakhir dengan tragedi kembali—kali ini tragedinya terlalu menyakitkan hingga diriku meringis. Rasanya seperti menaiki tangga yang sangat tinggi, hanya satu langkah saja untuk sampai ke tempat tujuan, namun kamu malah terjatuh.

“Kehidupan itulah yang mengubah segalanya.”

Pernyataan Sang Dewi membuatku bingung, “Mengubah apa?”

“Kunci untuk menyelamatkan keluarga kekaisaran,” jawab Dewi Kebajikan, beliau tersenyum pahit, “Richard dan Agatha sadar untuk melindungi kekaisaran serta keluarganya, mereka harus menciptakan sesuatu yang berbeda dari apa yang ditentukan oleh takdir.”

Kekuatan Sang Dewi berterbangan di udara, mengelilingi tubuhku. Aku merasa tidak nyaman, selain karena kekuatan Sang Dewi yang seakan meresap dalam tubuhku, informasi yang diberikan terasa sangat... sakral.

“Mereka memilih untuk menciptakanmu di kehidupan sekarang,” Sang Dewi menatapku dengan senyuman yang terlihat hangat, namun dingin disaat yang bersamaan, “Kau akan menjadi penyelamat Keluarga Savasta—keturunan para biadab yang tidak seperti keturunan sebelumnya.”

Aku...

... Sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.

Eksistensi yang seharusnya tidak pernah ada, diciptakan oleh dua insan itu, demi kelangsungan keluarga kekaisaran para biadab. Seorang keturunan biadab yang tidak seperti seorang biadab. Seorang keturunan yang akan membawa era baru.

Aku merupakan eksistensi yang seharusnya tidak pernah ada.

Pada takdir yang telah ditentukan, Keluarga Savasta seharusnya berakhir dengan Richard dan Agatha, Ayahanda dan Adik Perempuanku. Namun, keturunan para biadab memang sering tak masuk akal, terlebih Ayahanda dan Adik Perempuanku. Keduanya meminjam kekuatan para dewa untuk mengulang linimasa demi melindungi keluarga biadab ini. Dengan mengulang linimasa, keduanya menemukan kunci untuk menjaga kelangsungan Keluarga Savasta:

Dengan menciptakan seorang keturunan yang tidak seperti keturunan para biadab lainnya.

Seseorang yang tidak akan merasakan kesengsaraan, iri dengki, dan balas dendam. Seseorang yang tidak akan merasakan haus darah maupun keinginan untuk menyakiti orang lain. Seseorang yang akan menjadi pemimpin yang dermawan dan dicintai oleh seluruh rakyatnya.

Mereka menciptakan aku, George Savasta, yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini.