Godaan Sang Dewa Kegelapan
“Apakah kau ingin mengubah takdirmu?” Sang Iblis membisikkan godaannya pada telinga Sang Putri Mahkota.
Semua terjadi begitu cepat bagi Sang Putri Mahkota. Ia telah menyadari bibit-bibit pemberontakan itu, namun tak ia sangka bahwa hal itu akan terjadi secepat ini. Tahu-tahu ia sudah dipasung dihadapan warganya sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa Sang Putri merasa getir dengan kejadian tersebut.
Ya, keluarganya merupakan orang-orang biadab yang haus darah. Walaupun begitu, kekaisaran selalu saja makmur, bukan? Selalu sejahtera, bukan? Kekaisaran Tarramonia berfungsi seperti itu, tunduk dalam perintah sang tiran. Semua hal yang telah ia lakukan adalah demi kelangsungan kekaisaran. Sang Putri Mahkota mungkin tidak peduli terhadap keluarganya, namun menjaga kelangsungan kekaisaran adalah tanggung jawabnya.
Tak mungkin mereka yang memberontak akan berhasil memertahankan kemakmuran kekaisaran. Lagipula, mereka juga orang-orang tamak. Perbedaan antara para pemberontak dan keluarga kekaisaran hanyalah satu: Keluarga Savasta dianugerahi kekuatan langsung dari Dewi kebajikan, Aleysha.
Namun sekarang tidak ada lagi jabatannya sebagai Nona Saintess maupun Putri Mahkota yang Jahat, tidak ada lagi Kekaisaran Tarramonia, maupun Empat Gereja yang menjaga kekaisaran. Hanya ada Agatha yang membuka matanya dan melihat langit-langit yang sangat asing.
“Selamat datang di dunia, Park Dahye.”
Ah, namanya Park Dahye sekarang.
Bagaimana bisa seorang Saintess tergoda oleh bisikan Sang Iblis? Bisa saja karena Nona Saintess adalah keturunan para biadab—jika diberi kesempatan untuk mengubah takdir, tentu saja akan diambilnya.
Kehidupannya yang baru sangatlah unik. Teknologi, ilmu pengetahuan, bahkan bahasa dan budayanya berbanding balik dengan kehidupan sebelumnya. Di kehidupan kali ini ia juga belajar mengenai moral dan bagaimana cara membedakan perilaku buruk serta perilaku baik.
Sejujurnya, Agatha sendiri—atau sekarang namanya Park Dahye—tidak terlalu peduli akan moral. Namun, senang rasanya mendapatkan pengetahuan baru bahwa kelakuannya selama ini merupakan perilaku buruk.
Sedang menikmati waktu soremu, Agatha?
Ah, iya. Makhluk ini—memanggil dirinya sebagai The Unknown God—sudah menggangguku sejak bayi. Iblis ini terus saja membisikkan godaan mengenai memberikan kekuatan cukup besar untuk mengubah takdir keluarga kekaisaran.
“Ya, jadi jangan ganggu aku.”
Penawarannya sangat menarik, Agatha akui. Diberikan kekuatan sangat besar hingga dapat memutar balik takdir yang seharusnya sudah mutlak? Agatha tentu saja menginginkannya. Namun, yang membisikkan godaan adalah dewa kegelapan, dengan peringkat yang tinggi juga. Memiliki kontrak dengan para dewa memang selalu ada risikonya, namun risiko membuat kontrak dengan seorang dewa kegelapan seratus kali jauh lebih tinggi.
Bagaimana kalau aku memberimu waktu uji coba?
“Hah?”
Agatha mengernyitkan keningnya. Apalagi itu waktu uji coba? Semacam trial yang selalu diberikan perusahaan sebelum berlangganan aplikasi premium mereka, kah?
Benar, semacam itu. Setelah kematianmu di kehidupan ini, aku akan membawamu kembali ke kehidupanmu sebelumnya, juga memberikan sedikit akses kekuatanku. Bagaimana, ingin mencobanya? Kau selalu bisa menolak berlangganan setelah uji coba, ya 'kan?
Memang tidak ada wujudnya, namun Agatha menatap udara kosong di hadapannya, masih skeptis dengan ucapan sang dewa kegelapan itu. Entitas itu berkata Agatha selalu bisa menolak kontrak setelah uji coba, namun... apakah iya ia bisa menolak setelah merasakan kekuatan sangat dahsyat hingga dapat memutar balik waktu?
Bagaimana, Putri Mahkota Kekaisaran Tarramonia?
Agatha terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab.
“Aku akan menerima uji coba itu.”
Risiko tinggi selalu mengikuti setiap perjanjian dengan Sang Iblis, namun Sang Nona tidak pernah menyesali keputusannya menjadi abdi dari kegelapan.
Park Dahye meninggal diumur 30 karena gempa bumi dahsyat yang menghampiri kota di mana ia ditugaskan. Satu penyesalan bagi Park Dahye dari kehidupan itu adalah tak sempatnya ia mengucapkan selamat tinggal ke keluarganya.
Dan, ketika ia membuka matanya kembali, ia sudah berubah menjadi anak berumur tiga tahun di sebuah kamar yang sangat mewah—kamar yang sangat familiar dengannya.
Kamar Agatha Savasta.
Selamat datang kembali di Kekaisaran Tarramonia, Putri Mahkota.
“Aku... benar-benar kembali?” Sang Putri Mahkota tidak memercayai kenyataan itu. Ia diberi kesempatan untuk mengulang kembali kehidupannya dan melindungi keluarganya—tentu saja, kesempatan ini adalah masa uji coba yang diberikan Sang Iblis.
Walaupun kau telah kembali, ada beberapa perubahan yang terjadi di linimasa ini.
“Perubahan?” gumamnya bingung. Perubahan seperti apa? Apakah perubahan kecil atau perubahan besar? Apakah linimasa sekarang berbeda dengan linimasa kehidupan aslinya?
Kau bukanlah satu-satunya yang kembali, Putri Mahkota.
“Eh?”
Belum sempat dijelaskan, pintu kamarnya dibuka dengan kasar oleh seseorang. Ketika Agatha menoleh, matanya terbuka lebar. Di daun pintu berdiri sosok sang Ayah dengan wajahnya yang mengerikan—Sang Tiran, Richard Savasta.
“Kenapa malah bengong?” Sang Ayah mendekati putri kekaisaran itu, mengambilnya dengan menjumput kerah baju bagian belakangnya, “malfungsi 'kah?”
Pelipis Agatha berkedut. Bisa-bisanya ia dikatai malfungsi, dikira dirinya mesin?! Lagipula, apa yang dilakukan Sang Kaisar di kamarnya? Tumbenan sekali manusia yang tidak peduli pada apapun kecuali hasratnya tiba-tiba berinteraksi dengan putrinya.
Ayahmu juga kembali dengan kekuatan Dewi Kebajikan-mu, jauh sebelum waktu sekarang.
Sang Putri Mahkota hanya bisa menganga mendengar fakta tersebut.